Setiap mendengar kata "donor darah", mungkin yang terbayang di benak kita adalah "Jarum besar yang menakutkan". Bagi sebagian orang, mendengar kata itu tidak menimbulkan "sesuatu", bahkan sering tidak peduli, atau malah merasa bahwa itu bukan sesuatu yang penting. Adakalanya mungkin merasa bahwa donor darah itu penting, tapi dengan embel2 "asal bukan aku".
Bagi sebagian yang lain -termasuk kami-, donor darah adalah sesuatu yang sangat penting, yang benar2 berarti "nyawa" bagi kehidupan (orang lain). Mungkin seseorang harus merasakan "butuh donor darah" baru benar - benar bisa merasakan betapa penting dan mulianya orang - orang yang bersedia mendonorkan "sedikit" darahnya bagi orang lain -termasuk kami-. Dan mungkin juga orang - orang yang akhirnya mendonorkan darahnya bisa merasakan betapa "nikmatnya" menjadi pendonor setelah "terpaksa" harus menjadi pendonor -termasuk saya-.
Saya dan suami merasa betapa donor darah itu sangat penting ketika di tahun 2000 anak kedua kami alm. Dimas beberapa kali membutuhkan transfusi darah segar ketika dirawat di RSHS. Sulitnya mencari donor waktu itu membuat kami bertekat menjadi pendonor jika keadaan memungkinkan. Alhamduillah, meskipun anak kami saat itu juga tidak tertolong, suami menjadi pendonor tetap sejak saat itu. Bahkan ketika anak keempat kami alm. Hariz membutuhkan transfusi darah segar awal tahun 2008 kemarin, bapaknya sendiri yang menjadi salah satu pendonornya.
Saya sendiri sebenarnya ketika mahasiswa sudah berniat menjadi pendonor, namun apa daya selalu ditolak karena terlalu kurus. Untuk pertama, bobot tubuh harus 50 kg, selanjutnya boleh 45 kg. Untuk sekian lamanya saya agak melupakan hal itu, apalagi kemudian terhalang dengan seringnya saya hamil, melahirkan, menyusui, meskipun sejak hamil anak ketiga (afya), saya sudah "menggembung". Saya juga sempat dihantui oleh ketakutan "jarum besar" ketika melihat kegiatan donor darah yang diadakan di kantor.
Akhirnya saya berkesempatan juga menjadi pendonor meskipun karena keadaan darurat (baca: terpaksa), ketika kami harus menyediakan darah untuk mertua yang mau operasi, sementara di PMI tidak ada persediaan. Kala itu dari 4 orang yang diperiksa ternyata hanya saya yang memungkinkan untuk menjadi pendonor. Anehnya setelah menjalani donor darah yang pertama, tiba - tiba saya merasa begitu "nikmat", merasa menjadi manusia yang lebih "berguna" sehingga 3 bulan kemudian saya kembali berdonor.
Akhir - akhir ini hampir setiap hari saya juga disibukkan dengan hal - hal yang berhubungan dengan "donor darah". Bermula ketika anak teman kantor membutuhkan darah segar (tidak disimpan lebih dari 2-3 hari) selama seminggu penuh, setiap hari 2 orang yang bergolongan darah A. Di kantor kami sibuk menyediakan pendonor untuk anak tersebut. Kemudian minggu kemarin, salah seorang karyawan sebuah bank yang kerapkali "bersinggungan" dengan kami bercerita bahwa anaknya yang berusia 4 tahun ternyata menderita Thalassemia, dan harus menjalani transfusi darah segar setiap 6 minggu sekali (!!!) sehingga selalu membutuhkan 2 orang yang bergolongan darah B untuk menyambung hidupnya ...... Terakhir kemarin, anak teman menderita DB, dan membutuhkan transfusi. Alhamdulillah tidak ada kesulitan karena bisa memakai persediaan darah yang ada di PMI.
Alhamdulillah di kantor kami hari rabu tgl 28 Januari nanti mengadakan kegiatan donor darah sukarela, dan telah terdaftar 57 pegawai yang bersedia menjadi pendonor.....
Rasanya tidak ada alasan lagi bagi kita untuk "takut" menjadi pendonor, jika kita mengetahui betapa sebagian darah kita adalah benar - benar "nyawa" bagi orang lain. Jangan sampai seperti kami, harus merasakan "membutuhkan" pendonor, atau karena "terpaksa" harus donor, baru menjadi pendonor ......
katanya, kalau sudah biasa donor darah, badan jadi lebih sehat ya mba?
ReplyDeletetapi untuk mengawalinya itu yang agak sulit buat, takut ... padahal mungkin kalau sudah terbiasa mah bisa menikmati juga seperti yang mba bilang ...
Haduh, aku mbaca aja udah lemes mbayangke jarum.. .
ReplyDeleteHeu....
Mau sih... Cuma HaBe Ita rendah mulu. Kan penderita Thalasemia juga. Untung ga perlu transfusi.
ReplyDeleteMbak, aku masih di tolak terus tuh kalau mau donor..nggak nyampe2 50 kg kecuali pas hamil...hiks..
ReplyDeleteoh itu.. isan kemaren sempet SMS, tanya aku B atau bukan, krn ada temen ayahnya afya yg perlu. rupanya yg DBD itu ya. sayangnya aku A. syukurlah kalau ternyata persediaan di PMI masih mencukupi...
ReplyDelete(pendonor tetap nih.. cuma sempat terhenti waktu harus dioperasi di akhir 2007)
bu, bu...
ReplyDeleteaku juga ngga pernah bisa donor darah, berat badanku ngga pernah di atas 45kg
<---- sampe kini masih ditolak petugas karena terlalu kurus (secara, hidup penuh penderitaan jew)
ReplyDeletehiii..katane jarum e guede bgt i,,
ReplyDeletemau deh mauuu, ga takut, asal ga lihat pas darahnya mengalir ke luar... hiiiyyyyyhhh serem
ReplyDeleteojo dibayangke, langsung teko wae ning PMI...
ReplyDeleteiya ... ternyata aku baca di indonesia pembawa thalassemia itu dari 100 orang ada 6 orang yang thalassemia.... Semoga ita nanti kalo punya anak dapatnya yang sehat, amin.
ReplyDeletelha... kurang faham juga saya, tapi pernah denger juga sih, karena darahnya selalu ganti baru
ReplyDeleteiya sih ... sebenarnya saya pingin kurus juga he... he... tapi ternyata sedikit menggembung ada gunanya juga, paling tidak jadi bisa donor darah.
ReplyDeleteiya, alhamdulillah yang di PMI ada, Tadi malam sempet trombositnya semper 15 ribu, tapi hari ini udah 46 ribu, semoga memang udah saatnya naik
ReplyDeleteiya nih... kumaha kitu bisa mungil teruuus... mau dong.. sekarang pingin target di bawah 50 aja susaaaah....
ReplyDeletehuuusss. hidup itu jangan dibilang penuh penderitaan, tapi harus disyukuri...
ReplyDeleteiyo rada gedhe timbang yen ninglab, tapi jebul ra popo kok nduk...
ReplyDeletehayyyah... ya jangan dilihat he.. he.. Saya punya temen SMA, kalo pas lagi ngambil darahnya sendiri untuk praktikum pemeriksaan golongan darah, tahu2 pingsan he.. he.. Terjadi 2 kali. Waktu SMA, dan kuliah ... Gak tahu kenapa ya...
ReplyDeleteseandainya saya bisa kirim darah saya via email...
ReplyDelete(dari si ayah yang juga golongan B dan udah males ngitungin berapa kali pernah donor darah)
boleh dicoba oooom..... (gek piye yaa.....)
ReplyDeletepengen deh ikutan, kayakn alm. bapak dulu, yang siap sedia kalo ada yang butuh darah golongan A.
ReplyDeletekalo berat badan Alhamdulillah lebih, kelebihan malah hehehe...
iya bu...... harus dimulai, mumpung belum kurus lagi he.. he...
ReplyDelete