Setelah selama setahun Afya berambut panjang dan nggak mau dipotong, akhirnya afya sendiri yang minta potong rambut. Syaratnya .... di salon !!!
Sunday, March 30, 2008
Rambut afya
Setelah selama setahun Afya berambut panjang dan nggak mau dipotong, akhirnya afya sendiri yang minta potong rambut. Syaratnya .... di salon !!!
Gaya afya
Saturday, March 29, 2008
SLC
SLC adalah Student Led Conferences. Istilah yang cukup keren untuk kegiatan anak seusia afya. Tapi kegiatan itu mulai dilaksanakan untuk anak TK di sekolah Afya - Cendekia Leadership School yang punya mbak Endang - hari Sabtu kemarin. Sebelumnya kakak2 SD sudah lebih dahulu diadakan. SLC adalah salah satu bentuk pelaporan pembelajaran / aktivitas yang telah dilaksanakan siswa di sekolah.
Dalam SLC, hanya murid dan orang tuanya yang terlibat, sementara guru hanya mengamati dari luar kelas. Jadi di sini siswa diberi kesempatan untuk berbagi informasi kepada orang tua tentang apa yang dipelajari di sekolah, sekaligus memperkenalkan lingkungan tempat belajarnya kepada orang tua.
Menurut saya itu kegiatan yang menarik, apalagi untuk anak usia pra-sekolah (TK A dan TK B), karena anak dilatih untuk berani bicara. Sehari sebelumnya (jum'at), siswa TK khusus belajar untuk mempersiapkan SLC. Mereka diberikan simulasi SLC dengan guru yang berperan sebagai orang tuanya. Dari informasi guru di buku penghubung, afya terhitung lancar dalam simulasi.
Nah ..... ketika waktunya tiba, (kebetulan afya mendapat giliran kelompok pertama, setiap kelompok 3 orang) afya sempet agak keluar -ogoh-nya. Yang minta digendong lah ... yang malu - malu lah ... Wah .... gimana ini.... tapi setelah dibujuk bu gurunya, akhirnya afya mau juga memulai kegiatan SLC-nya.
Pertama afya mempekenalkan kami kepada bu gurunya, demikian pula sebaliknya (kenalan pura2 sih ..... soalnya sebelumnya udah kenal
). Setelah itu kami bertiga masuk kelas, tanpa didampingi gurunya. Dalam hati saya berpikir, ingat nggak ya anak kami dengan urutan2 dalam SLC selanjutnya??? Ternyata dia tahu. Afya mulai bercerita tentang hasil2 karyanya yang sudah dipajang di dinding kelas dengan tema - tema berbeda. Ada hasil karya lukisan tentang sekolah, Surat pendek dan doa yang dihafal, gambar kegiatan menanam pohon dalam toples, maket sekolah sederhana, dan banyak lagi.
Selanjutnya Afya mengambil hasil karya yang ada dalam Portfolionya. Di situ afya bercerita tentang kegiatan dan menunjukkan komentarnya yang dalam portfolionya tergambar
atau
. Banyak juga hasil - hasil yang ditunjukkan. Hampir semua ditandai Afya dengan
.
Setelah itu Afya mengajak kami ke tempat bermain. Di situ Afya bermain Puzzle, dan kartu angka. Pada saat itu saya berkesempatan kembali melihat2 dinding kelasnya, dan menemukan ada sesuatu yang belum ditunjukkan Afya dalam ceritanya. Ketika saya tanyakan kepada Afya : 'Nak.... kok yang ada bintang - bintangnya belum diceritakan???'
Dengan tidak perduli afya berkata : 'Nggak usah .... itu mah nggak perlu'
Saya tanya lagi : 'Kenapa nak???'
Tanpa melepaskan pandangan dari puzzlenya dia berkata : 'Afya nggak suka'
Wah kenapa ya??? Setelah selesai SLC, kami bercerita kepada gurunya, bahwa Afya melewatkan bagian 'bintang'nya. Ternyata bintang itu adalah penghargaan dari guru untuk siswa yang 'hebat' dalam melakukan kegiatan. Kalau bintang itu terkumpul 20, boleh ditukar dengan stiker.
Nah ..... ternyata Saudara - saudara..... bintang Afya sangat sedikit.......
, itulah mengapa Afya tidak mau menunjukkannya. Menurut ibu guru, afya tidak banyak mendapat bintang karena kalau makan lamaaaa, kalo sholat ngobrol sendiriiii, bahkan kalo teman - temannya tidur suka diganggu (Afya paling susah diajak tidur siang). Wah ..... darimana nih dapetnya........
.
Dari sini kami jadi tahu, ternyata anak seusia Afya udah tahu 'malu'...... dan mulai pintar 'sembunyi'. Semoga dengan SLC anak - anak akan terpacu untuk belajar lebih baik, sehingga pada SLC mendatang bisa dengan bangga mempersembahkan semua hasil karyanya kepada orang tuanya.
Bravo SLC... Bravo Cendekia... (tapi kenapa sekolahnya pindah jauuuuuuh..........
)
Dalam SLC, hanya murid dan orang tuanya yang terlibat, sementara guru hanya mengamati dari luar kelas. Jadi di sini siswa diberi kesempatan untuk berbagi informasi kepada orang tua tentang apa yang dipelajari di sekolah, sekaligus memperkenalkan lingkungan tempat belajarnya kepada orang tua.
Menurut saya itu kegiatan yang menarik, apalagi untuk anak usia pra-sekolah (TK A dan TK B), karena anak dilatih untuk berani bicara. Sehari sebelumnya (jum'at), siswa TK khusus belajar untuk mempersiapkan SLC. Mereka diberikan simulasi SLC dengan guru yang berperan sebagai orang tuanya. Dari informasi guru di buku penghubung, afya terhitung lancar dalam simulasi.
Nah ..... ketika waktunya tiba, (kebetulan afya mendapat giliran kelompok pertama, setiap kelompok 3 orang) afya sempet agak keluar -ogoh-nya. Yang minta digendong lah ... yang malu - malu lah ... Wah .... gimana ini.... tapi setelah dibujuk bu gurunya, akhirnya afya mau juga memulai kegiatan SLC-nya.
Pertama afya mempekenalkan kami kepada bu gurunya, demikian pula sebaliknya (kenalan pura2 sih ..... soalnya sebelumnya udah kenal
). Setelah itu kami bertiga masuk kelas, tanpa didampingi gurunya. Dalam hati saya berpikir, ingat nggak ya anak kami dengan urutan2 dalam SLC selanjutnya??? Ternyata dia tahu. Afya mulai bercerita tentang hasil2 karyanya yang sudah dipajang di dinding kelas dengan tema - tema berbeda. Ada hasil karya lukisan tentang sekolah, Surat pendek dan doa yang dihafal, gambar kegiatan menanam pohon dalam toples, maket sekolah sederhana, dan banyak lagi. Selanjutnya Afya mengambil hasil karya yang ada dalam Portfolionya. Di situ afya bercerita tentang kegiatan dan menunjukkan komentarnya yang dalam portfolionya tergambar
atau
. Banyak juga hasil - hasil yang ditunjukkan. Hampir semua ditandai Afya dengan
.Setelah itu Afya mengajak kami ke tempat bermain. Di situ Afya bermain Puzzle, dan kartu angka. Pada saat itu saya berkesempatan kembali melihat2 dinding kelasnya, dan menemukan ada sesuatu yang belum ditunjukkan Afya dalam ceritanya. Ketika saya tanyakan kepada Afya : 'Nak.... kok yang ada bintang - bintangnya belum diceritakan???'
Dengan tidak perduli afya berkata : 'Nggak usah .... itu mah nggak perlu'
Saya tanya lagi : 'Kenapa nak???'
Tanpa melepaskan pandangan dari puzzlenya dia berkata : 'Afya nggak suka'
Wah kenapa ya??? Setelah selesai SLC, kami bercerita kepada gurunya, bahwa Afya melewatkan bagian 'bintang'nya. Ternyata bintang itu adalah penghargaan dari guru untuk siswa yang 'hebat' dalam melakukan kegiatan. Kalau bintang itu terkumpul 20, boleh ditukar dengan stiker.
Nah ..... ternyata Saudara - saudara..... bintang Afya sangat sedikit.......
, itulah mengapa Afya tidak mau menunjukkannya. Menurut ibu guru, afya tidak banyak mendapat bintang karena kalau makan lamaaaa, kalo sholat ngobrol sendiriiii, bahkan kalo teman - temannya tidur suka diganggu (Afya paling susah diajak tidur siang). Wah ..... darimana nih dapetnya........
.Dari sini kami jadi tahu, ternyata anak seusia Afya udah tahu 'malu'...... dan mulai pintar 'sembunyi'. Semoga dengan SLC anak - anak akan terpacu untuk belajar lebih baik, sehingga pada SLC mendatang bisa dengan bangga mempersembahkan semua hasil karyanya kepada orang tuanya.
Bravo SLC... Bravo Cendekia... (tapi kenapa sekolahnya pindah jauuuuuuh..........
)Thursday, March 27, 2008
Ikhlas 2
Tadi malam kami kedatangan seorang sahabat. Hampir sebulan yang lalu mereka harus melepas anak lelaki satu-satunya yang masih berusia 2 tahun menghadap Ilahi. Sebenarnya kami hanya saling berbagi untuk mengurangi rasa kehilangan.
Ternyata kami tidak sendiri. Banyak orang yang lebih 'berat cobaannya'. Sahabat tadi telah berjuang untuk kesembuhan buah hatinya, yang dalam usia belia harus menjalani operasi sampai 7 Kali!!! Yg bahkan tidak dilakukan di tanah air. Namun saat kesembuhan nyaris di depan mata, hingga kedua orang tuanya mulai bernafas lega, tiba - tiba Yang Di atas berkehendak lain. Dia lebih menyayangi anak itu sehingga tidak memperpanjang usianya. Sungguh Kuasa Allah di atas segala - galanya.
Saat kami mendengar kisah mereka, tiba - tiba kami merasa betapa kesedihan kami masih lebih 'ringan' di banding mereka. Dengan kebersamaan 2 tahun lebih, tentunya kenangan akan buah hati-pun lebih banyak dan sulit dilupakan. Bagi kami, Allah masih memberi titipan yang lain, Afya, sedangkan mereka belum seorangpun. Rasanya kami harus lebih lkhlas. Kita memang harus selalu bersyukur, dengan apapun yang diberikan kepada kita, meski kadang terasa pedih, karena ada hikmah di balik setiap kejadian. Yang juga patut kami syukuri adalah Allah telah pernah memberi kami kesempatan, sesempit apapun kesempatan itu.
Untuk sahabat kami, dengan usia yang tidak lagi muda, sementara Dokter hanya memberi mereka satu kali lagi kesempatan untuk kembali memiliki anak, kami ikut berdoa semoga Allah mempermudahnya.
Ternyata kami tidak sendiri. Banyak orang yang lebih 'berat cobaannya'. Sahabat tadi telah berjuang untuk kesembuhan buah hatinya, yang dalam usia belia harus menjalani operasi sampai 7 Kali!!! Yg bahkan tidak dilakukan di tanah air. Namun saat kesembuhan nyaris di depan mata, hingga kedua orang tuanya mulai bernafas lega, tiba - tiba Yang Di atas berkehendak lain. Dia lebih menyayangi anak itu sehingga tidak memperpanjang usianya. Sungguh Kuasa Allah di atas segala - galanya.
Saat kami mendengar kisah mereka, tiba - tiba kami merasa betapa kesedihan kami masih lebih 'ringan' di banding mereka. Dengan kebersamaan 2 tahun lebih, tentunya kenangan akan buah hati-pun lebih banyak dan sulit dilupakan. Bagi kami, Allah masih memberi titipan yang lain, Afya, sedangkan mereka belum seorangpun. Rasanya kami harus lebih lkhlas. Kita memang harus selalu bersyukur, dengan apapun yang diberikan kepada kita, meski kadang terasa pedih, karena ada hikmah di balik setiap kejadian. Yang juga patut kami syukuri adalah Allah telah pernah memberi kami kesempatan, sesempit apapun kesempatan itu.
Untuk sahabat kami, dengan usia yang tidak lagi muda, sementara Dokter hanya memberi mereka satu kali lagi kesempatan untuk kembali memiliki anak, kami ikut berdoa semoga Allah mempermudahnya.
Tuesday, March 25, 2008
Ikhlas
Sebenarnya saya tidak ingin memulai tulisan saya dengan kesedihan, tapi itulah yang ada di hati saya saat ini. Hampir dua bulan yang lalu hariz kami kembali ke pangkuan-Nya, dan selama itu pula saya tidak pernah bisa berhenti untuk mengingatnya. Kadang kala saya merasa dia hanya sedang berada di tempat lain. Saat saya bekerja, dia sedang bermain bersama ibu2 di cendekia, atau saat saya sedang bersama kakaknya afya, dia hanya sedang bobo di kamar sebelah. Kalau saya ditanya apakah saya ikhlas melepasnya pergi, saya akan menjawab saya ikhlas. Tapi entah mengapa saya selalu berpikir bahwa kami tidak 'mempersiapkan' hariz sebagaimana yang seharusnya, setelah kehilangan - kehilangan kami sebelumnya. Padahal kami sudah berpikir, jauh sebelum kelahirannya di dunia ini, bahwa kelahiran seorang anak dalam kehidupan kami mungkin akan beresiko.
Saya ingat saat saya mengandung afya, di usia 5 bulan kami periksa kepada seorang herbalis, dan selama 2 bulan berikutnya saya minum jamu sesuai anjurannya. Andaipun bukan karena itu, alhamdulillah sampai saat ini Allah memberikan kesehatan untuk anak kami afya. Lalu ketika saya mengandung hariz, kekhawatiran yang sama sebenarnya ada, bahkan lebih besar, saat kami tahu bahwa saya mengandung janin laki2, tentu karena sebelumnya Allah memanggil 2 anak laki2 kami sebelum mereka berusia 6 bulan. Tapi entah mengapa apa yang kami pikirkan akan kami lakukan, tidak kami lakukan. Periksa darah, dna, air ketuban, sampai menyimpan darah tali pusat, tidak juga kami lakukan. Tapi ini sudah jalan-Nya. Bahwa semua telah menjadi ketentuan-Nya. Apapun penyebabnya, hariz kami akan tetap kembali kepangkuan-Nya sebelum kami sempat mendengarnya memanggil kami.
Allah Maha mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Semoga apa yang sering sempat ada dalam pikiran saya tidak mengurangi keihlasan saya melepas hariz. Semoga kelak Allah berkenan menyatukan kami semua di akherat, seperti yang selalu diingatkan anak kami afya tatkala melihat ibunya bersedih mengingat kakak dan adiknya..... 'Ibu... jangan sedih... nanti kan kita semua akan meninggal, kita bisa ketemu lagi sama mas satrio, mas dimas, dan adik....'
Ya Allah, semoga Engkau mengabulkan harapan dan doa kami. Semoga Engkau ikhlaskan hati kami dengan sebenar2 ikhlas. Semoga Engkau ijinkan anak kami Afya menjadi penerus kami yang sholeh, dan mempertemukan kami semua di taman firdaus-Mu. Amin
Saya ingat saat saya mengandung afya, di usia 5 bulan kami periksa kepada seorang herbalis, dan selama 2 bulan berikutnya saya minum jamu sesuai anjurannya. Andaipun bukan karena itu, alhamdulillah sampai saat ini Allah memberikan kesehatan untuk anak kami afya. Lalu ketika saya mengandung hariz, kekhawatiran yang sama sebenarnya ada, bahkan lebih besar, saat kami tahu bahwa saya mengandung janin laki2, tentu karena sebelumnya Allah memanggil 2 anak laki2 kami sebelum mereka berusia 6 bulan. Tapi entah mengapa apa yang kami pikirkan akan kami lakukan, tidak kami lakukan. Periksa darah, dna, air ketuban, sampai menyimpan darah tali pusat, tidak juga kami lakukan. Tapi ini sudah jalan-Nya. Bahwa semua telah menjadi ketentuan-Nya. Apapun penyebabnya, hariz kami akan tetap kembali kepangkuan-Nya sebelum kami sempat mendengarnya memanggil kami.
Allah Maha mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Semoga apa yang sering sempat ada dalam pikiran saya tidak mengurangi keihlasan saya melepas hariz. Semoga kelak Allah berkenan menyatukan kami semua di akherat, seperti yang selalu diingatkan anak kami afya tatkala melihat ibunya bersedih mengingat kakak dan adiknya..... 'Ibu... jangan sedih... nanti kan kita semua akan meninggal, kita bisa ketemu lagi sama mas satrio, mas dimas, dan adik....'
Ya Allah, semoga Engkau mengabulkan harapan dan doa kami. Semoga Engkau ikhlaskan hati kami dengan sebenar2 ikhlas. Semoga Engkau ijinkan anak kami Afya menjadi penerus kami yang sholeh, dan mempertemukan kami semua di taman firdaus-Mu. Amin
Subscribe to:
Comments (Atom)