Wednesday, January 28, 2009

donor... donor... donor...

Alhamdulillah... hari ini kegiatan donor darah sukarela di kantor berlangsung lancar dan sukses.... dengan peminat lebih dari 75 orang, darah yang terkumpul sebanyak 62 orang. Kelihatan banyak, tapi kalo mengingat kebutuhan normal PMI setiap hari yang ternyata 200 kantong, rasanya kok masih sedikit banget. Tapi lumayaaaan....
Meskipun diwarnai dengan adegan2 ketakutan melihat jarum besar, toh tidak menyurutkan langkah para sukarelawan untuk dapat berbagi (darah) dengan sesama yang membutuhkan..... semoga darah yang terkumpul benar2 bermanfaat dan meningkatkan "harapan hidup" seperti yang tadi dikatakan oleh salah satu petugas PMI.

Sayang hanya ada 3 (tiga) ibu yang bisa diambil darahnya. Yang lainnya terpaksa nggak boleh karena Hb kurang, Tensi tinggi, Haid, dan menyusui.... dan dari 62 kantong, hanya ada 3 kantong yang jenis darahnya AB..... benar - benar jenis langka...

Semoga kegiatan ini dapat rutin kami adakan 3 bulan sekali.... dan lain kali sepertinya kami harus lebih giat melancarkan "kampanye" dan lebih banyak menyebarkan selebaran2 di kantor2 sekitar. Soalnya ternyata banyak juga yang datang berdonor setelah mendengar "kampanye" yang gencar kami lakukan beberapa hari ini.... namun yang paling berkesan mungkin kalimat salah seorang teman yang mengatakan : "Saya berusaha keras untuk menjadi donor tetap yang rajin, karena berharap semoga dihindarkan dari kebutuhan donor darah orang lain...."
Pas bangeeeet...... makanya...... AYO DONG DONOR....


Friday, January 23, 2009

DONOR DARAH

Setiap mendengar kata "donor darah", mungkin yang terbayang di benak kita adalah "Jarum besar yang menakutkan". Bagi sebagian orang, mendengar kata itu tidak menimbulkan "sesuatu", bahkan sering tidak peduli, atau malah merasa bahwa itu bukan sesuatu yang penting. Adakalanya mungkin merasa bahwa donor darah itu penting, tapi dengan embel2 "asal bukan aku".

Bagi sebagian yang lain -termasuk kami-, donor darah adalah sesuatu yang sangat penting, yang benar2 berarti "nyawa" bagi kehidupan (orang lain). Mungkin seseorang harus merasakan "butuh donor darah" baru benar - benar bisa merasakan betapa penting dan mulianya orang - orang yang bersedia mendonorkan "sedikit" darahnya bagi orang lain -termasuk kami-. Dan mungkin juga orang - orang yang akhirnya mendonorkan darahnya bisa merasakan betapa "nikmatnya" menjadi pendonor setelah "terpaksa" harus menjadi pendonor -termasuk saya-.

 Saya dan suami merasa betapa donor darah itu sangat penting ketika di tahun 2000 anak kedua kami alm. Dimas beberapa kali membutuhkan transfusi darah segar ketika dirawat di RSHS. Sulitnya mencari donor waktu itu membuat kami bertekat menjadi pendonor jika keadaan memungkinkan. Alhamduillah, meskipun anak kami saat itu juga tidak tertolong, suami menjadi pendonor tetap sejak saat itu. Bahkan ketika anak keempat kami alm. Hariz membutuhkan transfusi darah segar awal tahun 2008 kemarin, bapaknya sendiri yang menjadi salah satu pendonornya.

Saya sendiri sebenarnya ketika mahasiswa sudah berniat menjadi pendonor, namun apa daya selalu ditolak karena terlalu kurus. Untuk pertama, bobot tubuh harus 50 kg, selanjutnya boleh 45 kg. Untuk sekian lamanya saya agak melupakan hal itu, apalagi kemudian terhalang dengan seringnya saya hamil, melahirkan, menyusui, meskipun sejak hamil anak ketiga (afya), saya sudah "menggembung". Saya juga sempat dihantui oleh ketakutan "jarum besar" ketika melihat kegiatan donor darah yang diadakan di kantor.

Akhirnya saya berkesempatan juga menjadi pendonor meskipun karena keadaan darurat (baca: terpaksa), ketika kami harus menyediakan darah untuk mertua yang mau operasi, sementara di PMI tidak ada persediaan. Kala itu dari 4 orang yang diperiksa ternyata hanya saya yang memungkinkan untuk menjadi pendonor. Anehnya setelah menjalani donor darah yang pertama, tiba - tiba saya merasa begitu "nikmat", merasa menjadi manusia yang lebih "berguna" sehingga 3 bulan kemudian saya kembali berdonor.

Akhir - akhir ini hampir setiap hari saya juga disibukkan dengan hal - hal yang berhubungan dengan "donor darah". Bermula ketika anak teman kantor membutuhkan darah segar (tidak disimpan lebih dari 2-3 hari) selama seminggu penuh, setiap hari 2 orang yang bergolongan darah A. Di kantor kami sibuk menyediakan pendonor untuk anak tersebut. Kemudian minggu kemarin, salah seorang karyawan sebuah bank yang kerapkali "bersinggungan" dengan kami bercerita bahwa anaknya yang berusia 4 tahun ternyata menderita Thalassemia, dan harus menjalani transfusi darah segar setiap 6 minggu sekali (!!!) sehingga selalu membutuhkan 2 orang yang bergolongan darah B untuk menyambung hidupnya ...... Terakhir kemarin, anak teman menderita DB, dan membutuhkan transfusi. Alhamdulillah tidak ada kesulitan karena bisa memakai persediaan darah yang ada di PMI.

Alhamdulillah di kantor kami hari rabu tgl 28 Januari nanti mengadakan kegiatan donor darah sukarela, dan telah terdaftar 57 pegawai yang bersedia menjadi pendonor.....

Rasanya tidak ada alasan lagi bagi kita untuk "takut" menjadi pendonor, jika kita mengetahui betapa sebagian darah kita adalah benar - benar "nyawa" bagi orang lain. Jangan sampai seperti kami, harus merasakan "membutuhkan" pendonor, atau karena "terpaksa" harus donor, baru menjadi pendonor ......

Tuesday, January 13, 2009

Musibah

musibah memang bisa datang kapan saja, tanpa bisa dihindari. Minggu2 terakhir ini beberapa teman mengalami musibah yang mengharuskan salah satu anggota keluarganya dirawat di rumah sakit.

Akhir desember kemarin putri teman kantor tiba2 Hb-nya drop sampai 3.6! Dirawat di RSUD selama 8 hari, anak itu "hanya" menerima transfusi 4 labu. Hb-nya sempat naik sampat 7, namun akhirnya drop lagi menjadi 3.8.

Akhirnya keluarga memindahkan puterinya ke RS yang lebih besar, dengan harapan mendapatkan perawatan yang lebih baik dan memadai. Sehari di rumah sakit itu, anak tersebut langsung dipindahkan ke ruang perawatan intensif, dan keesokan harinya mulai dijadwalkan transfusi. Pada hari ketiga dia mulai kehilangan kesadaran. Menurut dokter yang menangani, ada penolakan dari tubuhnya yang menganggap darah transfusi (dari RS sebelumnya) sebagai benda asing, dan celakanya lagi darahnya mengental. Alhamdulillah
di RS yang baru pemeriksaan dan pengobatannya lebih menyeluruh. Dalam seminggu transfusiya sudah hampir mencapai 10 labu. Minggu kemarin akhirnya ada berita baik, dia mulai sadar, dan Hb-nya mulai naik hampir 8.

Sampai sekarang dokter belum dapat menyimpulkan penyebab Hb-nya drop. Sempat didiagnosa hemolitik autoimun, namun masih menunggu hasil pemeriksaan darah dari Jakarta. Semoga hasilnya tidak mengkhawatirkan.

Awal Januari ada teman yang dirawat di RS karena DB, alhamdulillah karena fisiknya memang kuat (lumayan banyak sepedaan), recovery-nya juga lebih cepat.

Lalu ada anak teman (SMA kelas 2) yang dirawat karena dehidrasi setelah menjalani latihan pecinta alam. Alamaaaak ...... maunya jadi jagoan jadinya malah masuh RS. Kasihan juga melihatnya, udah kurus, bayak luka, item .. oalah mas... mas... lain kali jadi ilmuwan aja seperti bapak ya....

Terakhir kemarin suami teman tiba - tiba stroke. Padahal yang punya penyakit darah tinggi sebenarnya sang istri .. jadinya bingung .. tapi ya itulah kuasa ILahi. Jadi meskipun tekanan darahnya "hanya" 170/120, ternyata gulanya 300 lebih. (Hati2, karena gula-pun bisa menyebabkan stroke, dan itu juga sudah pernah terjadi pada teman kantor yang masih muda)

Yang menakutkan adalah beliau mendapat stroke ketika sedang menyetir!!! Aduh..... ngeri banget.... Alhamdulillah dalam jarak hampir 2 km akhirnya beliau bisa mengerem, dan semua penumpang selamat. Ditengah musibah itu ternyata masih harus mengucap syukur bahwa stroke mengenai area sebela Kiri, sehingga kaki kanan masih bisa refleks mengerem.

Ya Allah, semoga Engkau memberikan pertolongan kepada teman2 kami, memberikan mereka kesehatan, kekuatan, dan kesabaran. Luluskanlah mereka dalam ujianMu kali ini. Semoga Engkaupun menghindarkan kami dari musibah serta memberi kekuatan kepada kami semua...amiiiin

Saturday, January 10, 2009

afya membuat keju....




Sabtu kemarin setelah Parent meeting di sekolah, saya dan afya bareng pak didi, jeng cussie, salma, dan jeng ticho juga azka "berkunjung" ke Gasibu. Ada acara serbu kejumooo, yang salah satunya anak2 bermain di cheese world. Kami orang tuanya nggak tahu pasti apa acara di dalamnya karena anak2 harus masuk sendiri.

Setelah mengantri satu jam lebih (diantriin pak didi ... makasih ya), akhirnya anak2 bertiga masuk. Mereka keluar dengan membawa roti berisi oreo dan keju.
Naaah .. sorenya di rumah afya ribut sekali ingin mempraktekkan "pelajaran" di cheese world yang katanya membuat keju....

Akhirnya saya perbolehkan dia mengambil "bahan2" yang katanya untuk membuat keju. Dicampurlah susu murni, keju parut, minyak, garam, bahkan tepung dan air!!! Alamaaak .....
Tapi dia bangga sekali, karena sebentar lagi katanya mengental dan jadilah Keju... he.. he.. Setelah ditunggu sekian lama nggak mengental, dia punya ide untuk dimasak di kompor .... setelah itu dia menunggu apakah adonannya menjadi kental.

Tentu saja bisa ditebak, sampai pagi juga adonannya tetap saja sama...
Yah nggak apa -apa meskipun sebentar lagi dibuang juga he.. he.. biar dia belajar, mudah2an lain kali dia benar2 bisa membuat keju

Tuesday, January 6, 2009

Ultah afya




ini foto telat diaplot ....

tgl 24 desember kemarin afya ultah yg ke-5. Bagi kue ke teman2 ngajinya di mesjid aja. Makan kue ber-3 ibu sama mbak nia kiriman wa Popon dan bude Marni.
hari ultahnya juga diisi dengan jalan2 ke spirit camp bareng temannya salma, fizhan, dan syahna, tentu saja "status"-nya afya adalah dititipkan ke orang tua teman2nya yang baik itu. Makasih banget yaaaa....
Semoga Afya selalu sehat, diberi umur panjang, menjadi anak sholihah dan pintar amiiin...