. Meski saya sendiri tidak terlalu mengenal ibu si bayi, sejak awal saya seperti 'terhubung' dengan bayi itu, karena sejak bayi itu harus masuk masuk RS ketika berumur 2 hari, teman saya (tante bayi itu) selalu menghubungi saya untuk informasi tentang dokter, rumah sakit, atau fasilitas NICU yang ada di Bandung. Mungkin karena kami pernah punya pengalaman yang sama. (Alm. Hariz sempat 17 hari dirawat di NICU RSHS, dan 13 hari di PICU RSHS sebelum dipanggil Yang Kuasa).Bayi laki2 yang diberi nama Muhammad Syaikha, terlahir dengan kelainan jantung, dimana ada saluran yang kurang sehingga darah bersih dan darah kotornya bercampur. Kebetulan dia lahir di bidan, dan langsung dibawa pulang tanpa sempat mendapat pemeriksaan dokter
. 2 hari di rumah bayi tersebut tidak mau minum, menangis tanpa suara membiru jika menangis. Ketika dibawa ke dokter, diberi rujukan untuk lgs dibawa ke NPIU / NICU RSHS. Persoalan dimulai ketika keluarga ada yang ingin membawa bayi tersebut ke RS lain. Dari sini teman saya mulai menghubungi saya.Akhirnya bayi tersebut di bawa ke Boromeus, dan langsung dirawat di NICU. 3 hari kemudian dipindah di ruang perawatan, tapi oleh dokter dirujuk ke Harapan Kita untuk dipriksa lebih lanjut. Tapi entah kenapa 2 hari kemudian bayi itu dibawa pulang. Saya tanya kenapa dibawa pulang. Katanya udah nggak ada treatmen lagi (belakangan saya baru tahu kalau ternyata mereka pulang paksa
). Waktu itu sebenarnya udah disarankan untuk segera dibawa ke Harapan Kita, tapi orang tua si bayi menunggu mau akikah dulu
(bayi itu adalah anak pertama). Temen saya dan keluarganya nggak bisa berbuat apa apa, karena bapak ibunya yg paling berhak memutuskan. Mungkin juga karena bayi itu ketika di bawa pulang udah mau minum meski berhenti2 karena kesulitan bernafas. Hampir seminggu bayi itu di rumah, sampai akhirnya rabu malam kemarin bayi itu mulai membiru lagi, nggak mau minum, tapi pipis terus. Anehnya ketika didesak untuk membawa bayi itu ke UGD, ayah bayi itu malah bilang besok aja
!!Besoknya kondisi bayi itu semakin parah. Saat itu mereka mulai kebingungan lagi bayi itu mau dibawa kemana. Ke Boromues, mungkin nggak enak, karena pulang paksa. Jadi pilihannya adalah RSHS atau Harapan Kita. Waktu itu saya sempat bilang, kalo kondisinya udah parah, bawa aja ke UGD (manapun!!). Akhirnya oleh keluarga dibawa ke RSHS, tapi oleh orang tuanya dibawa ke Instalasi Jantung, katanya mau minta rujukan ke Harapan Kita!!
Untunglah seorang perawat melihat kondisi bayi itu, dan segera berinisiatif memberikan oksigen dan melarikannya ke UGD. Ternyata kondisinya sangat kritis. Beruntung sekali penanganannya cepat, dan Alhamdulillah ada pasien NICU baru saja meninggalkan ruangan (R NICU hampir selalu penuh karena sangat terbatas peralatannya). Akhirnya bayi itu dibawa ke NICU dan saat itu juga dipasang alat bantu nafas (Ventilator).
Esoknya teman saya bercerita di kantor sambil menahan tangis karena menyesal telah membuang2 waktu. Dia menyesal mengapa dia dan kel. besarnya tidak memaksa orang tua bayi itu untuk segera membawanya ke RS Harapan Kita saat kondisi bayi itu masih memungkinkan. Tapi bagaimanapun kita tidak perlu menyalahkan siapapun, termasuk orang tua bayi itu. Yang penting dia telah tertangani.
Petang harinya, teman saya mengabarkan bahwa untuk menyelamatkan bayi itu, satu2nya cara adalah operasi. Untuk operasi harus menunggu kondisinya stabil, sementara untuk stabil, peluangnya sangat tipis, bahkan penyerapan oksigen bayi saat itu hanya tinggal 20% saja!! . Saat itu ingatan saya melayang ke masa 4 bulan yang lalu, ketika malam terakhir di PICU, Hariz kami mulai menurun penyerapan oksigennya (masih 80%), namun keesokan harinya ternyata Allah telah mengambilnya
. Pukul 23.50 menit, ponsel saya kembali menerima SMS yang berisi ananda Syaikha telah kembali kepangkuan-Nya..... Innalillahi Wainna Ilaihi Roojiuun...... Allah telah menetapkan 'waktu' bagi tiap hamba-Nya. Apapun penyebabnya, yang harus kita yakini adalah bahwa 'waktu' itu akan tiba tepat sesuai ketetapan-Nya, sehingga kita tidak perlu menyalahkan siapa - siapa.
Semoga Allah memberi kekuatan untuk kedua orang tuanya dan menggantinya dengan yang lebih baik. Amin....
Amiiin......
ReplyDeleteInnalillaahi wa inna ilaihi roji'uun...
Innalillahi wa inna lillahi roji'uun....ikut sedih mba....memang waktunya sudah ditetapkan Oleh NYA dan semoga diberi hikmah yang seluas2nya bagi orangtuanya atas kejadian ini
ReplyDeleteiya, memang semua akan kembali kepada -Nya
ReplyDeleteBener mbak, orang tuanya masih muda, kalo nggak salah 25-an. Anak pertama lagi. Insya Allah masih banyak kesempatan.
ReplyDeletesemoga orang tua syaikha bisa bersabar dan dapat mengambil pelajaran yg berharga (hikmah). postingan ini juga mengingatkan saya untuk senantiasa bersyukur dengan karunia ALlah, berupa anak-2 yg sehat dan baik. terimakasih mbak niken.
ReplyDeleteBener teh ria, janin dlm kandungan adalah rahasia Allah. Sepantasnya kita bersyukur jika dikaruniai anak yang sehat dan sempurna
ReplyDeleteInnalillahi wa innailaihi rojiun...
ReplyDeleteSemoga Seluruh keluarganya diberi ketabahan dan keihhlasan, dan semoga kedua orangtuanya dapat memetik hikmah untuk menjadi lebih bijaksana lagi ke depan nanti.
Amiin..... Insya Allah Mbak
ReplyDeleteInnalillaahi Wainna Ilaihi Raajiun. Saya jadi ingat anak pertama kami Daffa yang saya lahirkan 22 Januari 2001, dan meninggal 7 jam setelah saya lahirkan. Jarak 2-3 jam setelah lahir waktu itu dia juga membiru, dan mengalami sesak napas (belakangan saya tahu itu tanda-tanda kelainan jantung, pada umumnya karena jantung bocor). Dia meninggal beberapa jam setelahnya. (Bila boleh) saya menyesali, saya sebagai ibunya sama sekali tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Keluarga besar kami memutuskan tidak memberitahu, mengingat saya masih lemah setelah melahirkan. Saya hanya diberitahu bahwa anak saya harus dirawat secara khusus karena sakit. Namun saya tak berani membayangkan sakitnya ternyata sangat parah hingga merenggut nyawanya tepat selepas azan Magrib. Saya baru tahu kejadian yang sebenarnya hari ketiga. Ceritanya, ketika itu suami saya sedang sibuk menerima telepon duka cita. Saya pun mencuri kesempatan nekat berlari menuju ke ruang bayi untuk mencari anak saya. Barulah saya diberi tahu kejadian sebenarnya. Seperti dibangunkan dari mimpi, saya sangat kaget dan dalam hati ingin menyalahkan semua orang, mengapa under estimate pada saya, karena saya tidak selemah itu. Saya cukup strong untuk mengetahui sepahit apapun kejadian yang sebenarnya. Dalam pikiran saya berkecamuk: andaikan saya diberitahu lebih awal... andaikan.. andaikan.. Namun pada satu sisi saya sadar, umur seseorang telah digariskan oleh Yang Kuasa. Masalahnya bukan lagi bagaimana kita mencoba ikhlas dan mencoba mengatasi duka dan kesedihan akibat kehilangan. Tapi bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari musibah yang terjadi...
ReplyDeleteYa bune.... bener banget.... semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang bisa mendapat hikmah dari setiap kejadian.... (msl daffa juga, jangan disesali ya bune....)
ReplyDeleteAmiin...
ReplyDeleteInnalillahi...
ReplyDeleteayo, ayo, jangan ngingetin lagi, ntar sedih lagi...
yasinan mbak yu..
amin ya Allah...semua akan kembali kehadapan Sang pencipta hanya soal waktu.
ReplyDeleteYa.. ya.. bu ... insya Allah ....
ReplyDeleteIya betul... kalau ingat begitu rasanya hati jadi lebih tenang
ReplyDeleteInnalillahi wainna ilaihi rojiuun ...mudah-mudah aku lebih bersyukur
ReplyDeletebener teh.... semoga kita termasuk hamba-Nya yg selalu bersyukur
ReplyDeleteada banyak hal yang masih menunggu kita di hari depan. mumpung sekarang kita masih diberi kesehatan, anak yang sehat, kita sellau bersyukur pada Nya.
ReplyDeleteYa dhe ... mudah2an kita selalu bisa mensyukuri nikmat-Nya
ReplyDeleteInna lillah wa inna ilaihi raaji'uun..
ReplyDeletebetul, umur memang sudah diatur Allah..kita memang tidak bisa menyalahkan siapa2.. tapi kita pun wajib berusaha.. usaha dengan semaksimal mungkin.. selebihnya pasrah kepada yg Maha Kuasa..
Mudah2an diberi kesabaran & keikhlasan atas kehilangan ini.. insya Allah akan menjadi tabungan yang akan menjemput ibu bapaknya kelak di surga...
Amiin.... insya Allah ya teh...
ReplyDeleteYa Allah, InnaliLlahi wa inna Ilaihi rooji'uun.
ReplyDeleteSetiap membaca/mendengar/merasakan pilunya seorang ibu yang 'ditinggal pergi' anaknya saya kesulitan bicara, tak sanggup berkomentar..hanya dalam hati mendo'akan agar Allah memberi mereka balasan yang banyak atas kesabaran dan keikhlasan mereka terhadap setiap kehendakNya.
Saya selalu salut dan iri thd seorang ibu begitu tabah ketika amanahnya harus diminta kembali oleh Allah. Karena ia sudah punya tabungan akhirat yang begitu besar dan sulit ditandingi.
Amiin.... semoga ya mbak .....
ReplyDeleteInnalillahi wa inna illahi rojiu'uun.
ReplyDeleteSemoga orang tuanya diberi kesabaran. dan dibukakan jalan menuju pintu surga untuk rasa ikhlas yang terucap. amien.
makasih mama cussie.... semoga Allah memberi pengganti yang lebih baik
ReplyDeleteInnalillahi wa inna illahi rojiu'uun.
ReplyDeletepengalaman yg hampir sama spt saya..
tapi Alhamdulillah saya cukup tanggap dengan yg terjadi dengan anak saya ... curiga dengan nafasnya yg cepat (ngos-ngosan) saya segera bawa ke RS untuk cek dan ternyata jantungnya bocor :-(((
dan Insya Allah saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengusahakan kesembuhan putra saya.. Tapi Allah berkehendak lain ..
Maaf nih jadi curhat hehehe
Baca tulisan mbak jadi inget deh.. salam kenal
sama2 mbak .... semoga tulisan ini nggak mengingatkan tentang kesedihan2 ya..... yg jelas semoga bisa diambil hikmahnya ... makasih invitation-nya...
ReplyDelete